efek resiprositas

cara konsesi kecil bisa memancing balasan besar dari lawan bicara

efek resiprositas
I

Pernahkah kita terjebak dalam perdebatan yang rasanya tidak ada ujungnya? Entah itu rapat di kantor yang memanas, atau sekadar beda pendapat dengan pasangan di meja makan. Kita mencoba melempar sederet fakta dan data valid. Namun, lawan bicara malah menangkisnya dengan emosi yang semakin meledak. Ujung-ujungnya, tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada titik temu. Rasanya sangat melelahkan, bukan? Padahal, kita merasa sudah memakai logika yang paling masuk akal. Tapi anehnya, sejarah dan ilmu psikologi justru punya satu rahasia kecil yang sering kita lupakan saat sedang bertengkar. Ada sebuah trik yang terdengar tidak masuk akal. Trik di mana kita justru bisa memegang kendali penuh, hanya dengan cara sengaja mengalah di awal.

II

Mari kita bedah dulu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kita saat sedang berkonflik. Evolusi merancang otak manusia purba untuk selalu awas agar bisa bertahan hidup. Jutaan tahun kemudian, sisa-sisa insting itu masih ada. Saat pendapat atau keyakinan kita diserang, ada bagian kecil di otak bernama amygdala yang langsung menyala seperti alarm kebakaran. Masalahnya, otak kita seringkali tidak bisa membedakan mana ancaman fisik dari harimau buas, dan mana ancaman verbal dari rekan kerja. Dua-duanya dianggap bahaya yang mengancam nyawa. Jadi, ketika kita menyerang balik lawan bicara dengan argumen super tajam, tebak apa yang terjadi? Otak mereka langsung membangun benteng pertahanan lapis baja. Semakin keras kita menekan, semakin tebal dan tinggi benteng ego mereka. Sains membuktikan, memaksa orang mengubah pikiran lewat debat frontal itu nyaris mustahil. Lalu, bagaimana caranya kita menembus benteng tersebut tanpa perlu repot-repot membawa meriam?

III

Kuncinya ternyata ada pada sebuah fenomena psikologis yang sudah tertanam dalam DNA kita sebagai makhluk sosial. Fenomena ini yang mengatur bagaimana manusia purba bisa hidup rukun berkelompok tanpa saling bunuh. Namanya efek reciprocity, atau dorongan kuat untuk melakukan timbal balik. Teman-teman pasti tahu betul konsep dasarnya. Kalau ada tetangga yang mengantar makanan, kita otomatis merasa berutang untuk mengembalikan rantangnya dengan isi makanan juga. Sesederhana itu. Tapi dalam ilmu manajemen konflik, reciprocity punya level lanjutan yang bisa kita manfaatkan sebagai peretas pikiran. Pertanyaannya, bagaimana cara kita menanam rasa "berutang" di kepala orang yang sedang marah atau keras kepala? Masa iya kita harus membelikan mereka kopi panas tepat di tengah perdebatan yang sedang sengit? Jawabannya tentu tidak. Ada hal lain yang jauh lebih murah dari secangkir kopi, tapi nilainya luar biasa mahal di mata ego manusia.

IV

Hal berharga itu bernama konsesi. Atau dalam bahasa yang lebih membumi: keberanian untuk membenarkan secuil argumen lawan. Dr. Robert Cialdini, psikolog legendaris yang mendalami ilmu persuasi, menemukan bahwa hukum reciprocity tidak hanya berlaku untuk barang fisik. Hukum ini juga berlaku sangat kuat untuk sikap mengalah. Inilah rahasia terbesarnya. Saat kita berdebat, cobalah berhenti sejenak. Tarik napas. Lalu tatap mata mereka dan katakan sesuatu seperti, "Tahu tidak, untuk poin kamu yang satu itu, kamu benar. Saya setuju." Atau, "Saya akui, sepertinya saya salah nilai di bagian itu." Duar. Otak lawan bicara kita akan mengalami korslet sesaat. Mereka sudah mengepalkan tangan dan menyiapkan perisai untuk menahan serangan, tapi kita malah meletakkan senjata. Karena evolusi mengajari manusia untuk selalu membalas pemberian, otak mereka tiba-tiba merasa punya utang budi psikologis. Begitu kita memberi satu konsesi kecil, alam bawah sadar lawan bicara akan memaksa mereka untuk ikut menurunkan senjata. Mereka merasa harus membalas budi dengan ikut mendengarkan argumen utama kita secara lebih rasional. Satu langkah mundur dari kita, sukses memancing sepuluh langkah maju dari mereka menuju kesepakatan.

V

Tentu saja, saya tahu betul bahwa mempraktekkan ini butuh kebesaran hati yang luar biasa. Ego kita pasti menjerit. Rasanya pasti tidak sudi memberi panggung pada orang yang sedang menyebalkan. Tapi mari kita ingat-ingat lagi apa tujuan utamanya. Apakah kita hanya sekadar ingin menang debat tapi membiarkan hubungan hancur berantakan? Ataukah kita ingin benar-benar menyelesaikan masalah secara elegan? Mengalah di hal kecil sama sekali bukan berarti kita lemah. Justru, itu adalah tanda bahwa kita yang sebenarnya memegang kendali atas situasi tersebut. Kita sedang merajut jalan keluar lewat jalur sains. Jadi, lain kali jika teman-teman terjebak dalam perdebatan yang alot, cobalah taktik ini. Temukan satu saja hal sekecil apa pun dari celotehan mereka yang bisa kita benarkan. Berikan mereka "kemenangan" kecil itu. Lalu perhatikan baik-baik, bagaimana benteng pertahanan mereka pelan-pelan runtuh dengan sendirinya. Karena pada akhirnya, komunikasi yang baik bukanlah tentang siapa yang paling keras berteriak membela diri. Komunikasi adalah tentang siapa yang paling cerdas menyentuh sisi manusiawi lawan bicaranya.